Jump to content


ss ss gitar ss ss ss ss ss ss ss ss ss Situs Judi Bola

ingin beriklan? hubungi kami: email : big.lendir@yahoo.com atau Skype : big.lendir@yahoo.com

ss ss ss
ss ss ss
vert
Photo
- - - - -

Aku Jadi Pemuas Nafsu Bosku


  • Please log in to reply
1 reply to this topic

#1 wideslevin

wideslevin

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 25 posts

Posted 23 December 2015 - 07:49 AM

Copy dari situs lain buat arsip
 
Saat itu aku dalam posisi berdiri membungkuk sambil berpegangan pada meja kerja pak Didit di ruangannya. Pakaian atasku masih lengkap terpakai, sedangkan celana panjang dan celana dalamku sudah melorot sampai ke mata kaki. Pak Didit sendiri sedang menyetubuhiku dari arah belakang dengan hanya mengeluarkan penisnya melalui resleting celananya saja. CREK…CREK…CREK …CREK…CREK … terdengar bunyi suara becek dari kemaluanku yang sudah sangat basah “Uuuuhhh…uhhh….­Desi sudah mau dapet paaaa…ohhhhhh” Aku mulai merintih nikmat saat orgasmeku terasa akan datang. 
 
Pak Didit mempercepat gerakan pinggulnya supaya beliau juga bisa mendapat ejakulasi bersamaan dengan orgasmeku. “A…A…HHHH…HH..”­ Aku mendengan beliau berteriak tertahan dengan tubuh bergetar, penisnya ditancapkannya dalam- dalam pada liang senggamaku. “Desi…ss..saya…k­eluar …” bisiknya tertahan “AHHHHMMMMMMMMM­MMMMMMMMMMMM MMMMMMMPPPHHHHH­HHHHH…” Aku sendiri sedang sibuk menahan jeritan nikmatku sampai mukaku berubah menjadi merah padam. SROOOTT …SROT … SROT …srot …srot … semprotan air mani pak Didit yang hangat terasa memancar ke dalam rahimku yang saat itu sudah berisi janin berumur tiga bulan yang juga berasal dari benih beliau.
 
Setelah menenangkan diri sampai nafas kami tidak memburu lagi, pak Didit kemudian mengambil tissue untuk membersihkan kemaluanku dan kemaluannya untuk kemudian membantuku memakai celanaku lagi. Tanpa berciuman dulu karena akan membuat lipstikku berantakan, aku melangkah ke luar dari ruangan beliau karena di luar sana sudah menunggu manajer penjualan yang akan menghadap beliau.
 
Aku memang sering diminta melayani Quickly Sex di ruang kerja beliau terutama di pagi hari, kami hanya membutuhkan 5 - 15 menit saja untuk mencapai orgasme dan ejakulasi. Salah satu hal yang mengurangi kenyamananku adalah aku harus menahan suara erangan nikmatku agar tidak kedengaran sampai keluar ruang kerja beliau.
 
Aku bukanlah satu-satunya karyawan wanita yang beliau tiduri, tapi hanya aku yang beliau minta untuk melayani Quickly Sex di kantor. Namaku Desi, umurku saat kejadian ini adalah 34 tahun, statusku sudah menikah dengan satu orang anak. Aku bekerja di sebuah perusahaan di M* sebagai staf purchasing merangkap sekretaris untuk pak Didit. Sebelumnya aku adalah staf administrasi biasa, tapi atas permintaan pak Didit aku kemudian dipromosikan menjadi staf purchasing sekaligus melakukan fungsi- fungsi kesekretariatan­ terbatas.
 
Pak Didit merupakan direktur pengelola perusahaan yang juga merupakan pemilik perusahaan. Beliau merupakan orang yang sangat simpatik, penyabar dan telaten dalam mengajari anak buahnya agar bisa membantunya. Pada waktu pertama kali aku ditempatkan di bawah beliau untuk menggantikan sekretarisnya yang mengundurkan diri karena menikah, aku merasa sangat takut sehingga sering sekali berbuat salah. Tetapi beliau tetap mempercayaiku malah pada tahun awal tahun ini beliau mempromosikan aku sehingga gajiku naik hampir dua kali lipat.
 
Walaupun aku sekarang sudah lebih kenal dengan pak Didit, tapi tetap saja aku sering merasa tidak terlalu nyaman kalau harus menghadap beliau. Salah satu yang membuatku kurang nyaman adalah tatapan mata beliau yang sangat tajam dan kadang-kadang aku merasa seperti sedang ditelanjangi. Ada satu perubahan yang aku alami sejak mendapat promosi yaitu aku berusaha tampil lebih menarik setiap hari untuk pak Didit, aku tak tahu apa alasan pastinya dari keputusanku ini.
 
Pada suatu hari pak Didit menugaskanku untuk mengikuti seminar dan workshop yang diadakan di sebuah hotel di daerah Jatinangor, tentu saja materinya sangat sesuai dengan pekerjaan dan bidang usaha perusahaan kami. Selain seminar dan workshop yang aku ikuti, di hotel yang sama ternyata ada acara lainnya diselenggarakan­ oleh salah satu pelanggan terbesar kami. Pak Didit memutuskan untuk ikut acara ini untuk sekalian bertemu dengan para pengambil keputusan dari perusahaan pelanggan kami tersebut.
 
Oleh karena lokasi penyelenggaraan­ yang sama, otomatis kami mejadi sering bertemu terutama pada saat makan siang atau coffee break. Tentu saja sebagai staf biasa aku hanya berani menyapa beliau saja, tidak lebih dari itu. Tapi ternyata pak Didit malah yang mulai mengajakku mengobrol, awalnya obrolan biasa seputar pekerjaan di kantor dan materi seminar, tapi akhirnya topiknya meluas ke hal-hal yang lebih bersifat pribadi. Hari ini seminar dan workshop memasuki hari terakhir tetapi materinya sudah tidak ada yang baru sama sekali karena acaranya berupa presentasi dari perusahaan- perusahaan yang menjadi sponsor penyelenggaraan­ seminar ini.
 
Pada saat coffee break pagi pak Didit mengajakku untuk jalan-jalan saja meninggalkan acara seminar lebih awal karena beliaupun sudah tidak ada acara lagi. “Tapi suami Desi nanti sore akan jemput pa, rencananya kami akan sama-sama dari sini menengok saudara di Su*” Kataku yang kebingungan dengan ajakannya antara tidak berani menolak dengan takut dicurigai suamiku yang lumayan cemburuan kalau nanti tidak jadi ikut ke Su*. “Habis jalan-jalan saya bisa anterin Desi balik lagi ke sini, jadi tetap bisa ikut ke Su* dengan suami kamu” Beliau coba menjelaskan “Memangnya kita mau ke mana pa ?” Aku kembali bertanya “Saya ingin ngajak Desi ke Songgo* Bat* untuk berendam di sana, sambil refresing sebentar biar besok segar lagi waktu mulai ngantor” “Hmmmm…asyik juga, tapi Desi ga bawa baju renang” Aku jadi tertarik dengan tawaran beliau. “Saya juga tidak bawa celana renang kok … kita berendam air panasnya tidak di kolam renang, tapi di kolam rendam yang kita sewa sendiri sehingga kita bisa bebas berendam pake baju dalam atau telanjang sekalian” Katanya sambil tertawa “Boleh juga tuh … Desi mau deh ikut, tapi bapa nanti bener-bener balikin Desi ke sini lagi ya ?”
 
Aku akhirnya setuju dengan ajakan beliau dan tidak terlalu memikirkan pakai apa nanti berendamnya. Aku mau mengikuti ajakan beliau karena kesempatan ini jarang sekali bisa didapat oleh staff biasa seperti aku, sebagai boss dan pemilik perusahaan beliau lebih banyak berinteraksi dengan level manajer atau sedikitnya supervisor. Hanya saja posisiku sebagai staff purchasing sehari-hari sering ditempatkan juga sebagai sekretarisnya untuk beberapa urusan administrasi. Aku berharap dengan banyak kesempatan berbicara dengan bossku ini, aku bisa lebih mengenal keinginan beliau yang mudah- mudahan bisa memperlancar pekerjaan dan karirku di perusahaan.
 
Walaupun begitu aku juga punya sedikit rasa khawatir, apakah bossku ini punya agenda lain dengan mengajakku jalan-jalan ke tempat wisata dengan hanya berdua saja. Kemungkinannya bisa saja memang karena hanya ingin bersenang-senan­g dengan mengajak aku, tapi bukan tidak mungkin juga aku akan diajak menemaninya tidur. Kemungkinan kedua lebih mungkin terjadi karena pak Didit mengajakku untuk menyewa kamar kolam sendiri yang katanya berendam sambil telanjangpun bisa. Apakah itu bukan berarti beliau secara halus mengajak aku “ngamar” ? Sekejap ada perasaan bangga seandainya beliau memang ingin mengajakku “ngamar” berarti aku yang staf biasa ini cukup menarik bagi beliau apalagi aku sudah tidak muda lagi dan bukan gadis perawan. Kalaupun benar aku akan diajaknya berhubungan badan saat di Bat* nanti, apa yang harus kulakukan ? Kalau aku menolaknya pasti akan membuat beliau marah besar, sedangkan kalau menurutinya ajakannya apakah aku sanggup memenuhinya harapannya ? Apakah beliau juga akan tetap marah karena tidak puas dengan pelayananku walaupun sudah aku turuti keinginannya untuk bersetubuh ? Apakah setelah melihat bentuk tubuhku dalam keadaan telanjang bulat, apakah beliau masih “berselera” terhadapku ? Begitu banyak pertanyaan yang tidak bisa aku jawab sehingga akhirnya kuputuskan akan pasrah saja kalau ternyata pak Didit mengajakku berhubungan badan karena sekarang sudah terlanjur pergi bersamanya. Anehnya saat itu aku sama sekali tidak mempertimbangka­n statusku sebagai seorang istri atau bossku yang juga sudah berkeluarga. Aku hanya masih menyimpan harapan semoga pak Didit tidak mengajakku bersetubuh dan benar- benar hanya ingin ditemani berjalan-jalan dan berendam di air panas.
 
Akhirnya kami sampai di Bat*, kami tidak langsung pergi ke areal pemandian air panas, tetapi mampir dulu ke sebuah rumah makan untuk makan siang walaupun saat itu masih kepagian. Di sana kami memilih tempat makan lesehan di atas kolam yang lumayan romantis untuk orang yang datangnya berpasangan. Sebagai bawahannya akupun melayani beliau untuk lebih nyaman menyantap pesanan kami. Banyak hal yang kami obrolkan, terutama keingin tahuan beliau mengenai keluargaku dan juga pengalamanku sebelum bekerja di tempat yang sekarang. Aku tidak banyak berani bertanya banyak kalau mengenai latar belakang beliau kecuali beliau memang sedang menceritakannny­a. Obrolan ini terus berlanjut walaupun makanan telah habis, sehingga aku mulai merasa lebih akrab dengan beliau. Kami kembali melanjutkan perjalanan menuju areal pemandian air panas di Song*. Hatiku berdebar dengan kencang ketika pak Didit membelokkan mobilnya memasuki halaman salah satu motel di sana yang mempunyai halaman cukup luas. Dari jendela mobil beliau kemudian melakukan booking kamar pada beberapa room boy yang sepertinya memang menunggu tamu di gerbang pintu motel. Aku mulai merasa gelisah karena dari pendengaranku, beliau hanya memesan satu kamar saja yang artinya apakah aku akan satu kamar dengan dia berendamnya ? Room boy yang diajak bicara oleh pak Didit masuk ke dalam front office untuk mengambil kunci kamar yang dipesan, kemudian memberikan isyarat agar kami mengikutinya. Pak Didit memesan kamar yang paling besar di sana, jadi aku mulai berharap mungkin di dalamnya ada lebih dari satu kamar rendam yang terpisah.
 
Setelah memarkirkan mobilnya di car port depan kamar, pak Didit mengajakku turun dan masuk ke dalam kamar sambil membereskan pembayaran kamarnya. Ya ampun …. Kamar itu memang besar dan luas tetapi tetap saja hanya mempunyai satu kamar rendam dan juga ada tempat tidurnya. Aku mulai gemetar karena kekhawatiranku mulai mendekati kenyataan yaitu aku hanya berdua dengan pak Didit di sebuah kamar motel yang jauh dari rumah. “Mau langsung berendam atau istirahat dulu ?” Tiba-tiba bossku bertanya “I…i..istirahat­ aja dulu, Desi mau istirahat dulu” Jawabku agak tersendat, aku pikir dengan meminta istirahat dulu aku bisa menunda untuk berendam air panas. Siapa tahu kalau pak Didit mau berendam duluan sehingga kalaupun aku dipaksa berendam bisa setelah pak Didit selesai. Lagi pula kamar ini mempunyai dua ranjang besar, sehingga aku bisa menghindar untuk tidak satu tempat tidur dengan beliau. “Kalau begitu kita istirahat barengan aja dulu, baru nanti berendam bareng juga” Kata pak Didit sambil mulai melepas sepatu lalu membuka bajunya satu persatu sampai bertelanjang bulat di depanku begitu saja. “Lho … kamu juga buka baju dong, biar nanti tinggal langsung berendam dan baju kita tidak kusut” “Desi ti..ti..dak berani pak …” Jawabku sambil tertunduk dengan badan yang sudah menggigil. Aku sekarang benar-benar yakin bahwa pak Didit memang berniat meniduriku di sini, bukan hanya sekedar ingin mengajak berendam di air panas saja. “Kalau begitu saya bantuin ya …” Kata bossku sambil mendekat dan mulai membuka kancing kemeja atasku satu persatu. “Ja..ja..ngan pa…” aku merintih pelan karena mulai merasa tidak berdaya “Jangan kenapa ?” Tanya bossku lagi, walaupun dengan suara biasa tapi terasa sangat mengintimidasi “Ma…maksudnya …e..ehh … Biar Desi aja yang buka sendiri …” Akhirnya aku merasa harus menyerah dan pasrah pada situasi di mana pak Didit kelihatannya sudah tidak ingin dibantah lagi. Dengan tangan gemetar aku membuka bajuku satu persatu sampai akhirnya tinggal memakai BH dan celana dalam lalu berdiri mematung dengan kepala tertunduk di depan pak Didit yang dari tadi melihatku membuka baju. Kemaluanku walaupun masih tertutup celana dalam kucoba ditutup dengan tangan kananku, sedangkan tangan kiriku aku silangkan untuk menutupi dadaku. “Buka juga dong BH dan celana dalamnya” “Desi malu sama bapa …” “Malu kenapa ? Hanya ada kita berdua kok di dalam sini dan saya kan udah telanjang juga” Akhirnya aku menuruti juga kemauan beliau dengan melepaskan “pertahanan terakhirku” yang membuat kami sama- sama telanjang bulat sekarang. Walaupun sepanjang jalan tadi aku sudah mempersiapkan diri untuk terjadinya peristiwa ini, tapi tetap saja aku sangat ketakutan saat mengalaminya langsung. Tanpa terasa air mata mulai menggenang di mataku, tapi aku tidak berani sama sekali bersuara takut akan membuat suasana makin runyam. Tanganku aku silangkan di depan tubuh dengan kedua telapak tangan menutup kemaluanku sedangkan lengan bagian atasku dipakai menutupi dadaku setidaknya putting susuku.
 
Pak Didit sekarang berdiri tepat di depanku dengan tubuh tinggi besarnya hampir menempel padaku. Penisnya yang hitam kemerahan sudah berdiri tegak dan menempel diperutku. Kedua tangannya kemudian meraih tanganku dan melingkarkannya­ ke belakang tubuhnya sehingga aku jadi memeluk beliau di bagian pinggang. Daguku lalu diangkatnya dengan tanggannya sampai wajah kami berdekatan lalu beliau mencium bibirku dengan lembut sambil diberi sedikit hisapan-hisapan­ dan kecupan. Aku belum bisa bereaksi sama sekali saat itu selain mencoba memejamkan mata dengan air mata yang terus berlinang. Dengan sabar pak Didit menciumku berkali kali sampai akhirnya tanpa terasa aku mulai membuka bibirku yang tipis dan langsung dimanfaatkan oleh beliau untuk memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulutku. “Mmmmpphhhhh ….hhheehhhh….mm­mmppphhhh …” Aku mulai berdesah sebagai reaksi atas ciuman pak Didit yang semakin gencar dengan permainan lidahnya dan mulai mencairkan keteganganku. Tangan kirinya digunakan untuk memeluk tubuhku sedangkan tangan kanannya memegang tengkukku. Tanpa kusadari tanganku yang melingkari pinggangnya mulai kugunakan untuk memeluk pak Didit sehingga tubuh kami sekarang saling merapat, kulit bertemu kulit. Kurasakan kemaluanku bergesekan dengan pahanya yang berbulu sedangkan penis pak Didit bergesekan dengan perut dan payudaraku. Gesekan demi gesekan mulai membangkitkan gairahku sekaligus juga keberanianku untuk mulai menyambut aksi beliau. Kemaluanku terasa mulai lembab ……………. Pak Didit kelihatannya juga merasakan kemaluanku yang mulai lembab dari gesekan dengan pahanya sehingga beliau mulai lebih intensif menggerak-gerak­an pahanya pada kemaluanku. Aku meresponnya dengan merenggangkan pahaku sehingga seluruh kemaluanku sekarang bisa bergesekan dengan paha pak Didit. “Aahhhhhhhhhh …..geli paaa…” Desahku saat pak Didit mengalihkan ciumannya ke telinga dan leher kiriku “Ohhhhh….oohhhh­ …. Ohhhh ….ohhh….paaaa….­ohhhh…” suara desahanku makin tidak terkendali saat pak Didit mulai meremas-remas payudara kecilku dengan tangan kanannya.
 
Tiba-tiba pak Didit berlutut di depanku dan bibirnya langsung memangut putting susuku untuk dihisap-hisapny­a, sedangkan tangan kanannya sekarang mengelus-elus kemaluanku. “Bapaaaa…oohhhh­hh…..paaa….Desi akan diapain ….ohhhhh…..” aku terus mendesah hampir tidak berhenti. “Ouchhhhhh…..hh­hhh….shhhh… shhhh.shhhhhh” Hanya desisan yang bisa kukeluarkan saat pak Didit memasukkan jarinya ke dalam liang senggamaku lalu mengocoknya dengan cepat. Pelan-pelan kemaluanku mulai becek dikarenakan menerima rangsangan- rasangan yang pak Didit berikan padaku. Rasa takutku sudah hilang sama sekali demikian juga kekhawatiran akan mengecewakan beliau karena ternyata aku terus “digarapnya” walaupun sampai saat ini aku masih bersikap pasif.
 
Setelah lubang senggamaku semakin becek dan merekah, pak Didit lalu berdiri lagi dan dengan perlahan-lahan menekuk kakinya sehingga sekarang penisnya ada di depan vaginaku. Aku mengerti maksudnya yang akan menyetubuhiku dalam posisi berdiri, tapi aku belum pernah melakukannya selama aku menikah dengan suamiku. Jadi aku mencoba membantu beliau dengan merenggangkan kakiku sambil memajukan kemaluanku agar liang senggamanya lebih mengarah kedepan. Ternyata upayaku yang hanya berdasakan naluri itu cukup berhasil, kurasakan kepala penis beliau sudah ada di depan liang senggamaku sambil berputar-putar mencari posisi yang tepat untuk masuk. BLESSSSSSSSSSSS­SSSSSSSSSSSS …. Penis pak Didit akhirnya masuk dengan mulus kedalam liang senggamaku. “UUUUUUUHHHHHHH­HHHHHHHHHHHH………­.. ” Tanpa bisa ditahan lagi aku mengeluarkan suara lenguhan keras saking nikmatnya. Setelah seluruh batang penisnya masuk, pak Didit memelukku dengan kedua telapak tangannya pada buah pantatku. Kemudian dengan perlahan-lahan dia meluruskan kakinya sehingga secara otomatis aku terangkat ke atas oleh dorongan penisnya pada kemaluanku seperti sate dengan tusuknya. “Ohhhhhhhh….Desi­ takut jatuh paa ….”
 
Sambil melenguh nikmat aku juga merasa takut akan jatuh karena hanya tubuhku diangkat hanya oleh kekuatan otot penisnya saja. “Belitkan kedua kaki kamu ke pinggang saya sebagai pengait supaya tidak mudah jatuh” Perintahnya Aku segera mengaitkan kakiku melingkari pinggangnya dan tanganku memeluk lehernya, sedangkan kepalaku aku sandarkan pada bahu beliau. Setelah beliau yakin aku menempel dengan benar pada tubuhnya, dia lalu mulai menggerak-gerak­kan pantatnya maju mundur. “Ohhhhh….ohhhhh­….ohhhhh… ohhhh….bapppaaa­..aaahhhh…o hhhh….ohhhh….oh­hh…paaa…enaaak” Pak Didit menyetubuhiku yang digendong dalam pangkuannya sambil berjalan keliling ruangan. Bersetubuh seperti ini benar-benar tidak pernah terpikir olehku dan tidak pernah terbayangkan akan aku alami karena suamiku hanya melakukan hal-hal yang biasa saja. Walaupun pergerakan penis pak Didit sangat terbatas, tapi posisi penisnya yang tegak dan tertekan oleh berat tubuhku sendiri membuat terasa sangat nikmat seolah-olah menembus sampai jantungku. “Ohhhh…ohhhhh….­ohhh….ohhhh….oh­hh..” aku terus mendesah mengikuti gerakan bossku Tak berapa lama kemudian pak Didit menyandarkanku ke dinding kamar dan mulai menggenjot penisnya dengan lebih cepat karena beban dari berat tubuhku sudah tertahan sebagian oleh dinding kamar. “Addduddduuuuhh­hhh… ohhhhh….ohhhhh…­..ohhhh… ouchhhh… ..aahhhh….ohhhh­…” desahanku semakin menjadi-jadi. “AAAAAAAAAAAARR­RRRRRHHHHHHHHHH­H HHH……………….”
 
Akhirnya aku mengerang nikmat dengan keras saat orgasmeku datang. Pak Didit menurunkan intensitas genjotan penisnya untuk memberikan kesempatan padaku menikmati orgasmeku. “Adduuuuuhhhh….­ Enak sekali paaaa” Bisikku di telinga beliau “Kita sekarang main di ranjang ya sayang … Saya belum keluar…bantu saya ya sayang” Balas pak Didit dengan lembut. Aku hanya bisa mengangguk pelan karena seluruh tenagaku seolah-olah telah tersedot habis oleh orgasme tadi. Pak Didit kemudian menurunkanku sampai kakiku bisa menapak ke lantai sebelum kemudian melepaskan penisnya dari kemaluanku. Penisnya kelihatan sekali masih keras dan tegak walaupun sekarang warnanya lebih kemerahan dibandingkan sebelumnya.
 
Kemudian aku dibopongnya ke ranjang. “Uhhhhhhh….” Aku kembali mendesah saat beliau melepaskan penisnya dari kemaluanku. Di tempat tidur aku hanya bisa tergolek lemas, tapi aku masih ingat permohonan beliau yang ingin dibantu untuk bisa berejakulasi olehku. Oleh karena itu kucoba mengangkangkan kakiku agar menjadi isyarat bahwa aku masih siap menyambut lagi beliau supaya mencapai ejakulasi. Aku gosok-gosokkan tanganku pada kemaluanku supaya tetap merekah dan basah. Pak Didit lalu naik ke ranjang sambil mengocok-ngocok­ penisnya sampai ke dekat kemaluanku dan langsung memasukkannya lagi ke dalam liang senggamaku. BLESSSSSSSSSSSS­SSSSSSSSS ……………. “AAAAAAAAAAAAAA­AAHHHHHHHHHHHHH HHHHHHHH……” Penis pak Didit benar- benar bisa mendatangkan kenikmatan bagiku walaupun aku lihat tidak terlalu besar atau panjang ukurannya. “Euuhhhhh….euhh­hhh…euhhhh….euh­hhh… euhhhh…” aku terus melenguh saat pak Didit mulai memompakan penisnya dari atas tubuhku. “Ooooohhhh…ohhh­hh….bapppaaa….t­eruss… paaa…auhhhhh…a aaahhh” aku meracau Pak Didit memompa semakin kencang dan kemaluanku semakin basah bahkan mulai banjir mengalir keluar. CROK…CROK ….CROK ….CROK ….CROK …. Kudengar suara penis pak Didit yang menembus kemaluanku yang sudah sangat basah “Ohhhhh…ohhhh….­paaaaa….Desi mauuu dapet lagiiii….ooohhh­h” Aku beranikan untuk melingkarkan kakiku pada pantanya beliau untuk membantu tekanan saat memompa penisnya. “AAAAAAARRRRRRR­RRRRRRRKKKKKKKK­KKK KKKKHHHHHHHHHHH­H …..” Aku kembali mengerang saat orgasme keduaku datang Aku coba menekan kakiku yang melilit pantat beliau supaya bisa menikmati orgasmeku tapi rupanya beliau juga sedang menunggu ejakulasinya yang sudah dekat. “Desieee….saya akan semprotkan di dalam….AHHH…AHH­H…AHHH… ahhh….ahhhh….ah­hh” Teriak beliau sedikit tertahan SRRROOOOOT …..SROOOOOT ….SROOOOTTTT….s­rrrt ….srrrt….srrrt … kurasakan semprotan air mani bossku yang sedang menaburkan benihnya di rahimku. “Ahhhhhhhhhhhhh­…..” Pak Didit mendesah lega setelah semua air maninya keluar.
 
Kami lalu berciuman dan berpelukan dengan mesra seperti sepasang kekasih bukannya boss besar dengan karyawan level bawahnya. “Kamu bisa menikmatinya sayang ?” Tanya pak Didit dengan lembut membuka percakapan dengan tetap menindihku dan tanpa menarik penisnya dari kemaluanku. “Bisa pa, enak sekali malah… asalnya Desi takut sekali…tapi kalau tau bakal enak kayak ini Desi udah mau dari dulu- dulunya” Cerocosku panjang lebar “Emangnya kamu ga apa-apa saya setubuhi ?” Pak Didit keheranan dengan jawabanku “Bagi orang seperti Desi, bapa udah milih Desi untuk disetubuhi saja rasanya udah gimana gitu ….” Jelasku “Sebenernya waktu bapa ngajak Desi ke Songgo* buat sewa kamar rendam, Desi udah merasa pasti ujung-ujungnya bakal diajak bersetubuh” Sambungku sambil tanganku membersihkan noda lipstikku yang menempel di pipi dan sekitar bibir beliau “Desi ngerti lah kalau orang yang udah gede mandi bareng bakal ngapain …” “Jadi waktu Desi iyain, itu artinya sudah termasuk kesediaan Desi disetubuhin bapa” Kataku agak manja “Kalau Desi masih perawan mungkin bisa lain ceritanya atau mungkin juga tetep sama”. “Malah yang Desi paling takutkan bukan disetubuhinya, tapi takut tidak bisa memuaskan bapa atau membuat bapa marah” Sambungku “Desi tidak tahu, orang-orang gede seperti bapa itu maunya apa kalau lagi bersetubuh” “Kalau orang-orang kecil seperti suaminya Desi mah gampang sekali nebak maunya” AKu masih nyerocos “Desi tinggal ngangkang dia langsung tembak, selesai … mmmmpppphhhhhh”­.
 
Pak Didit hanya tersenyum lalu mencium bibirku untuk menghentikan omonganku yang menggelontor hampir tidak berhenti. Kami kembali berciuman mesra dengan memainkan lidah masing-masing dari cara menciumnya aku bisa belajar ciuman yang dalam dan membangkitkan gairah. Selama ini aku hanya berciuman dengan suamiku hanya mengadukan bibir saja dan paling banter seperti bertukar ludah. “mmmmmmpppphhhh­hhh….ahhhh… mpppppphhhhhhh…­… ohhhhhh… ..mpppphhhh” Saat berciuman aku tidak bisa menahan desahanku karena penis pak Didit walaupun sudah tidak sekeras sebelumnya kurasakan berkedut-kedut di dalam liang senggamaku sehingga menimbulkan rasa geli yang nikmat. Aku kemudian membalasnya dengan menggerakkan otot kemaluanku untuk meremas-remas penisnya dengan gemas sambil tanganku menekan-nekan pantatnya. “Ahhhhhh….” Desahku saat pak Didit mencabut penisnya dari kemaluanku dan berbaring di sampingku.
 
Aku mencoba memberanikan diri merebahkan kepalaku di dadanya berharap beliau bersedia memelukku, ternyata beliau menyambutku dengan mesra, bukan hanya membalas pelukanku tetapi juga membelai- belai tubuh dan rambutku. Bossku itu juga minta aku merapikan bulu kemaluanku karena beliau lebih senang bulu yang rapi tipis dan minta waktu nanti kami bersetubuh lagi sudah berubah. Walaupun suamiku sebenarnya lebih suka kemaluanku berbulu lebat, tapi aku memilih akan menuruti kemauan pak Didit saja dan aku akan cari alasan untuk suamiku. Apalagi dari kata-katanya itu artinya beliau mau mengajakku bersetubuh lagi di lain waktu yang membuat hatiku semakin berbunga-bunga.­ Setelah cukup beristirahat, kami lalu mandi berendam bareng di bak air panas yang tersedia di kamar mandi hotel. Kami berendam sambil berpelukan, pak Didit memelukku dari belakang sehingga tangannya bisa memeluk sambil memainkan kemaluanku, meremas-remas payudaraku dan memainkan putting susunya. “Geli paaa….ohhhhh…hh­hhhh ….shhhhhhhhh” Aku mulai mendesah dan mendesis saat pak Didit menciumi leher dan kupingku sedangkan jarinya mulai dikeluarmasukka­n ke dalam liang senggamaku yang terendam air. Tanpa sadar badanku mulai menggeliat- geliat karena rangsangan yang dilakukan beliau. Aku juga merasakan penis bossku itu mulai mengeras di belakang punggungku sehingga membuatku semakin terangsang. “Ohhhhhh….bapaa­a…Desi pengen disetubuhi lagi…shhhhhhh” Aku memberanikan diri meminta beliau menuntaskan berahiku yang sudah sampai keubun-ubun. Beliau lalu mencabut jarinya dari liang senggamaku dan mengangkat pantatku sedikit sehingga penisnya bisa diarahkan pada kemaluanku dari arah belakang. BLESSSSSSSSS ……….. “OOOOOOOOOHHHHH­HHHHHHHHHHHHH ………………..nikmat sekali paaa” Erangku menyambut masuknya penis beliau ke dalam tubuhku. “Euhhhhh….euhhh­hh…euhhhh…euhhh­hhh… euhhhh” Aku coba berinisiatif menggerak- gerakkan tubuhku naik turun di dalam air sambil berpegangan pada pinggir bak. Gerakan naik turunku menimbulkan gelombang pada air bak yang makin lama semakin bergolak tak teratur seperti juga gairah kenikmatanku yang terus semakin bergelombang naik. “Heeeehhhhhh ….Heehhhhh ….Heeehhhhh ….Heeehhhhh…” aku mencoba menaikkan tempo gerakanku tapi tetap saja hambatan air membuat gerakanku seperti gerakan slow motion di filem-filem. Pak Didit mengimbangi gerakanku dengan menaik turunkan pinggulnya sedangkan tangan kanannya semakin gencar meremas- remas payudaraku dari arah belakang dan tangan kirinya memainkan kelentitku. “Oooohhhh ….ohhhh….ohhhhh­….ohhhh….ohhhh…­..ohhhhh ” Gerakanku semakin liar dengan rangsangan dari beliau “AAAKEEEE DAPEETTTTT LAGI …..OHHHHHHHHHHH­HHH” Aku menjerit saat mendapat orgasme pertama di dalam air. 
 
Aku berhenti menggerakkan tubuhku untuk menikmati gelombang orgasmeku yang luar biasa bagiku dengan nafas agak tersenggal- senggal. Pak Didit masih menggerak-gerak­kan pinggulnya sehingga penisnya tetap naik turun di dalam liang senggamaku, tangannya di silangkan di dadaku sambil meremas kedua payudaraku dengan lembut. Bibirnya yang hangat kurasakan menciumi tengkuk dan punggungku berulang ulang melengkapi kenikmatan yang kurasakan. Pak Didit memintaku memutarkan badan supaya posisi kami menjadi saling berhadapan dengan penisnya masih ada dalam kemaluanku. Kami berciuman sambil aku memeluknya, sedangkan tangan beliau memegang kedua buah pantatku sambil tetap menaik turunkan pinggulnya. Pelan-pelan gairahku timbul kembali dan mulai mengimbangi gerakan pinggulnya dengan menggerakkan pinggulku sendiri naik dan turun. “Ahhhh ….Mmmmmppphhhhh­hh…… oohhhhhhh…..mmp­pppphhhh…” Kami meneruskan bersetubuh sambil terus berciuman. Makin lama ciuman kami makin panas, bibir kami saling melumat dan permainan lidah yang semakin liar. Gerakan penis pak Didit semakin kasar, penisnya dengan keras menyodok-nyodok ke dalam liang senggamaku sedangkan pantatku ditekannya kebawah oleh tangan beliau. “Ohhhhhh ….ohhhhh….ohhhh­hh….paaaa….ohhh­hh…. baapaaaa….aduuu­h hhhh…” Aku hanya bisa mengerang nikmat tanpa berbuat apa-apa karena pak Didit mengambil alih kendali. “Desieee…. Saya mau keluarrrrrr” pak Didit mengerang Aku rasakan tubuh pak Didit bergetar keras sedangkan penisnya berdenyut- denyut dengan tidak kalah kerasnya. SROOOOOOTTT …SROOOTTT…….SRO­OOTTTT … semprotan demi semprotan air mani bossku kembali membanjiri rahimku “A..a..aahhhh..­a..a..aahhhh…” pak Didit mengerang tertahan Walaupun aku tidak mendapat orgasme lagi yang berbarengan dengan ejakulasinya pak Didit, aku tetap merasa puas karena sudah mendapat orgasmeku tadi.
 
Aku lalu menciumi dan membelai-belai wajah bossku yang terlihat cukup kelelahan setelah bersetubuh denganku di air panas. Otot-otot liang senggamaku kembali aku kontraksikan untuk memijat-mijat penis pak Didit yang juga sedang kelelahan di dalam tubuhku. Bossku itu kelihatannya sangat suka dengan apa yang aku lakukan, beliau lalu membalas ciumanku dan memelukku dengan mesranya. Beliau kemudian menciumi seluruh wajahku, leherku dan payudaraku serta menghisap- hisap putingnya sambil mengucapkan kepuasannya bersetubuh denganku. Sebagai wanita tentu saja aku merasa bangga bisa memuaskan beliau yang merupakan bossku sehari-hari walaupun sebenarnya aku juga sangat puas karena mendapat kenikmatan yang lebih tinggi dari yang aku biasa dapat kalau berhubungan badan dengan suamiku sendiri.
 
Dengan posisiku tetap “menunggangi” beliau kami mengobrolkan berbagai hal, mulai dari pekerjaan sampai yang berkaitan kehidupan pribadi masing-masing, tentu saja sambil diselingi berciuman mesra. Pak Didit sempat bertanya apakah aku pake pengaman, waktu aku balas dengan pertanyaan kenapa baru bertanya sekarang padahal beliau sudah dua kali menebar benihnya ? Beliau menjawab sambil tertawa bahwa karena aku sudah punya suami maka dia tidak terlalu khawatir kalau aku jadi hamil karenanya. Aku memang sekarang memakai IUD sebagai pengaman karena belum merencanakan punya anak lagi. Kemudian iseng-iseng beliau aku tanya, kalau aku lepas IUDnya apakah dia mau menghamili aku ? Jawabannya cukup mengagetkan tapi sangat menyenangkanku karena beliau bersedia “menyumbang” benihnya tetapi tidak mau menikahiku. Tetapi beliau bersedia berkomitmen untuk membantu biaya “anak biologisnya” itu. Setelah selesai berendam, kami lalu membersihkan badan dan berpakaian lagi untuk bersiap-siap pulang karena suamiku sudah akan menjemputku di tempat seminar tadi. Di tengah perjalanan pak Didit memintaku melakukan oral seks, karena aku belum pernah melakukannya beliau lalu membimbingku mengenai cara melakukannya. Sesampainya di tempat parkiran tempat seminar, pak Didit belum juga berejakulasi yang memaksaku untuk lebih agresif mengemut penisnya. Akhirnya beliau bisa ejakulasi dan memintaku meminum seluruh air maninya sampai habis. Ternyata suamiku juga sudah ada ditempat parkiran menjemputku sehingga membuatku agak panik dan dengan terburu- buru aku segera merapikan baju dan rambutku serta memakai lipstik lagi yang telah hilang menempel di penis pak Didit. Setelah semuanya rapih kembali aku keluar dari mobil pak Didit dan ambil jalam memutar dari parkiran yang tidak terlihat suamiku untuk masuk ke tempat seminar. Aku kemudian menghampiri suamiku seolah-olah baru selesai seminar dan mengajaknya berkenalan dengan pak Didit … bossku di kantor

  • putramatahari and little7 like this

#2 isengaja_4H

isengaja_4H

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 12 posts

Posted 19 October 2016 - 05:43 PM

Benar2 boss yang baik dan anak buah yang sangat pengertian kepada bosnya hehehe