Jump to content


ss ss gitar ss ss ss ss ss ss ss ss ss ss Situs Judi Bola

ingin beriklan? hubungi kami: email : megalendir@gmail.com , big.lendir@yahoo.com atau Skype : big.lendir@yahoo.com

ss ss ss
ss ss ss
vert
Photo
- - - - -

Yeyen 3


  • Please log in to reply
4 replies to this topic

#1 yenn.ajah

yenn.ajah

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 27 posts

Posted 18 October 2015 - 02:51 PM

Seperti biasa, setelah aku pulang dari pasar, kucari Yeyen."Kemana lagi ini anak.. pasti ketiduran lagi," pikirku.Aku masuk ke dalam rumahnya. Benar, dia lagi tidur memakai selimut."Ngapain ini orang siang-siang tidurnya kok selimutan? Apa sakit?" batinku. "Jendelanya juga ditutup?"

Kupegang keningnya, "Nggak panas kok.. kuperhatikan tubuhnya. Kok putingnya kelihatan menonjol? Dia selimutan memakai kain jarik tipis. Jadi aku tahu kalau putingnya menonjol. Aku sibakkan selimutnya pelan-pelan. "Lho.. kok nggak pake baju..?" batinku. Kutarik selimutnya semua. Melihat tubuh indah terpampang di hadapanku, penisku mulai berkedut. "Kok tangan kanannya ada di dalem celana dalemnya? Abis ngapain dia?" batinku. Melihat dadanya, penisku mulai tegang, kudekatkan wajahku, kucium pipinya, hidungnya, matanya. Eh.. dia menggeliat bangun. Mungkin kena angin. Jadi terasa dingin.

Dia kaget melihatku. Langsung menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya."Eh.. Mas Pri. Lagi ngapain," katanya."Tadi kamu aku panggil-panggil tapi nggak jawab, lalu aku masuk. Aku kaget liat kamu tidur kok telanjang, selimutnya berantakan. Mas mau betulin selimut kamu," kataku membela diri."Jadi Mas udah ngeliatin aku tidur dari tadi?""Lhaa.. abis kamu tidur kok nggak pake baju. Salah kamu doong.""Lho.. Mas aja yang masuk ke rumah orang nggak permisi..""Yaa.. udah Maass pulang. Bangun sana nyuci sama masak." kataku sambil meninggalkannya."Yee.. gitu aja Mas marah. Sini dulu dong Maass.." katanya manja sambil menarik tanganku agar duduk di dipannya."Maass aku kepingin seperti semalem doongg." katanya sambil menatapku."Nggak ah.. masak siang-siang gini. Entar malem aja ya.""Nggak.. maunya sekarang.." rengeknya.

Tau-tau dia merangkulku dan mencium bibirku. Aku tidak bisa menolaknya, kubales, kumainkanlidahku di mulutnya. Dia membalas. Nafasnya mulai tersengal-sengal. Selimutnya kusingkirkan, kuremas-remas susunya. Ciumanku mulai turun ke lehernya, turun lagi ke pundaknya, lalu mulutku melumat puting kanannya. Kepalanya menengadah sambil mendesis-desis. Persis seperti suara Kak Intan. "Oohh.. Mas Pri.. enak Maass.."Lalu kurebahkan dia ke dipan. Tangannya mulai masuk ke dalam celanaku. Memegang penisku di dalam celana. Mungkin karena kurang leluasa, Yeyen mulai menurunkan celana pendekku dengan CD-nya sekalian. Aku bantu dengan mengangkat pantatku. Tanganku pun mulai menurunkan celana dalamnya. Akhirnya dia bugil di depanku."Mas curaang.. kok kaosnya nggak dilepas..""Lho.. usaha doong."Lalu dia melepas kaosku. Kami lalu berguling-guling di dipan sempit tersebut, kutindih badannya. Mulut kami saling mengunci tidak bisa berkata apa-apa. Tangannya memegang penisku. Agak sakit. Kuraba seluruh badannya termasuk paha, punggung, perut. Setiap kuraba vaginanya, pahanya selalu direnggangkan.

 

Aku lalu teringat Kak Intan. Dulu si lelaki kok menjilati kelamin Kak Intan. "Kucoba ke Yeyen aahh.." batinku. Lalu ciuman kuturunkan ke lehernya, kedua susunya. Jari tengah tangan kananku masuk ke belahan vaginanya. Sudah basah. "Aaahh.. oohh.. sshh.. sshh.." dia mendesah agak keras, kudiamkan karena aku yakin saat sekarang di sekeliling kontrakanku pasti sepi.Lalu ciumanku turun ke perutnya. Kujilat-jilat pusarnya. Dia makin menggelinjang. Ciumanku terus turun sampai akhirnya wajahku tepat di depan vaginanya. Aku tak peduli gimana rasanya, kucium vaginanya. Baunya segar sekali.

 

Yeyen kaget sekali saat kucium vaginanya. Dia bangun dan melihat saja. "Mas Pri.. Jorookk.. vagina Yeyenn kok dicium.." desahnya tapi tidak tampak adanya penolakan. Saat kumasukkan lidahku, Yeyen mendesah, "Aaahh.. Maass.. Vagina Titiinn diapainn.. aahh Mass.. jangan.. adduuhh.." Aku terus saja menjilat benjolan kecil di dalam kemaluan Yeyen. Sementara Yeyen menggelinjang tidak karuan.

 

Kira-kira lima menit, tiba-tiba Yeyen melingkarkan kaki di kepalaku dan mengangkat pantatnya sehingga aku agak sulit bernafas. "Maass.. Yeyen mau piippiiss.." Menyemburlah cairan hangat seperti tadi malam. Karena aku sudah tahu rasanya, kujilat semuanya sampai habis. Uh, enak sekali rasanya.Manis, asin, gurih jadi satu. Aku naik ke atas dan memeluknya sambil tiduran."Mas.. Yeyen capek.." sambil wajahnya ditaruh di dadaku."Mas kok nggak jijik sih jilatin Vagina Yeyen?" tanyanya."Mas kan sayang Yeyen. Jadi Mas nggak akan jijik." sahutku sekenanya."Terus, pipis Yeyen juga dijilat? emang enak?""Enak kok.. kayak tajin."Hening sejenak."Mas, kalau Mas maunya diapainn," katanya sambil memegang penisku."Terserah Yeyen aja," kataku."Yeyen kocokin seperti semalem yaach."Lalu dia jongkok, mengocok-ngocok penisku yang tegang. Aku mendesah keenakan. "Aaahh.. Ooohh.. sshh.." Penisku makin tegang saja rasanya.Tiba-tiba penisku terasa geli, basah dan hangat? kutengok ke bawah. Ternyata Yeyen sedang menjilat-jilat kepala penisku. Aku tidak tahu belajar darimana dia, yang penting yang kurasakan saat itu nikmat sekali. Mimpi dipegang tititku oleh perempuan saja aku tak pernah. Apalagi sekarang dijilat. "Aduuhh Tiinn.. aku kamu apaiinn.. aahh.."

 

Saat sedang enak-enaknya mengerang, tiba-tiba kok hangatnya tidak di kepalanya saja. Kulihat ke bawah, "Astaga..!" Penisku diemut. Belum berfikir yang lain, tiba-tiba ada rasa aneh di penisku, ternyata selain diemut, Yeyen pun menghisapnya. Tak tahan akan gelinya, aku semakin mengerang. "Tiinn.. aku kamu apaiinn.. Tiinn.. kamu kok tegaa.." Tak berapa lama aku kepengin pipis. "Tiinn.. udaahh.. Mass mau pipiss.." Karena tidak tahan dan Yeyen tidak melepaskannya, akhirnya, "Croott.. croott.. croott.." Empat atau lima kali penisku meneKakkan cairannya di mulut Yeyen. Yeyen kaget sekali. Sebagian ada yang tertelan dan sebagian lagi meleleh keluar dari bibirnya.

"Mas Pri jahat.. pipis kok di mulut Yeyen.." katanya sambil berdiri dan mengelap mulutnya dengan kain jarik. Lalu dia minum air putih.Yeyen juga siihh.. Mas bilang udah.. udah, tapi Yeyen nggak mau lepasin," balasku."Udah sini tiduran. Mas kelonin," sambungku.Sambil kukelonin, kucium pipinya."Yeyen kok mau ngisep penisnya Mas? Apa nggak jijik. Khan jorok," pancingku."Lho, kata Mas kalau sayang kan nggak jijik.""Tadi pipis Mas gimana rasanya? Enaakk?""Enak Mas. Kayak santen tapi agak asin.""Yeyen belajar dari mana?"

"Waktu Yeyen ngintip, Yeyen liat Kak Intan ngisep tititnya Oom. Kayaknya Oom itu keenakan. Terus Yeyen mau Mas juga keenakan. Ya Yeyen ikut-ikutan Kak Intan.""Mas, Yeyen malu mau ngomong sama Mas.""Ngomong aja. Sama Mas kok malu.""Yeyen juga punya bacaan. Yeyen dapet sewaktu beli koran bekas untuk bungkus. Ada dua Mas. Yang satu Eni Arrow, yang satu Nick Carter.""Sewaktu Yeyen baca, badan Yeyen merinding semua. Terus susu sama Vagina Yeyen jadi gatel."Ooohh pantes dia cepet belajar. Dari situ toh sumbernya. Ditambah live show.

 

Selama kelonan, dadanya menghimpit dadaku. Terasa hangat dan kenyal. Lama-lama penisku keras lagi. Kucium pipi dan bibirnya lagi. Dia pun menyambutnya dengan mesra. Kami berciuman, bergulingan. Tanganku pun mulai bergerilya lagi. Ke susunya, punggungnya, lehernya, selangkangannya. Akhirnya tangan kananku berhenti di daging lunak di selangkangannya. Aku mulai mengusap-usap klitorisnya. Dia makin mendesah-desah nggak karuan. "Aaahh.. Maass.. Yeyen sayang sama Mas Pri.. shh.. aahh.. enak Mass.. teruuss Mass.." Sementara tangannya mulai meremas-remas punyaku. Penisku sudah pada puncaknya sekarang.

 

Tiba-tiba Yeyen melepaskan pelukannya.

"Mass.. Yeyen mau seperti Kak Intan.. Mas mau khaann.." katanya sambil menatap mataku.Ada permintaan tulus di sana, ada gelora di sana, ada sesuatu yang aneh di sana."Tapi Mas takuutt.. Nanti gimana? Kita khan belum pernah..""Tapi Yeyen mau Mass.." katanya lagi.lalu penisku diusap-usapkan ke mulut vaginanya yang sudah basah."Aaahh.. sshh.." dia mendesah.

 

Mendengar desahannya, aku mulai bertindak. Kukangkangkan pahanya, terlihatlah vaginanya yang tembem dengan rambut halus dan jarang, bagian dalamnya yang merah muda dan ada tonjolan daging sebesar kacang kedele. Vaginanya ternyata sudah basah sekali. Merah berkilat-kilat. Kusentuh kacang kedele itu.

"Aacchh.. Mass.. sshh.."Oh, jadi ini toh yang bikin dia menggelinjang itu. Kusentuh lagi."Aacchh.. Mass.. sshh.. diapain siicchh Mas.. nakal amat siihh.." desahnya.Kudekatkan wajahku supaya bisa melihat lebih jelas. Bentuknya lucu sekali. Aku coba menjilatnya."Aaacchh.. Mass..""Ayoo.. doonngg.. Mass.. cepetann.." katanya tak sabar.Kuarahkan kepala penisku ke mulut vaginanya, kutekan sedikit.

"Aaahh.." ada rasa hangat di kepala penisku. Kutekan sedikit. Kok mentok? Kutekan lagi. Mentok lagi."Tin, lubangnya yang mana?" tanyaku."Agak ke bawah sedikit Mass, di bawah yang Mas pegang tadi."Kuperhatikan dengan seksama. Oh, itu toh lubangnya. Kok kecil sekali? Apa punyaku bisa masuk?Kuarahkan penisku ke sana, kutekan. Kok melesat. Coba lagi. Meleset lagi."Yenn.. bantuin doonngg.."Yeyen memegang penisku lalu mengarahkannya."Teken Mas.. ya.. ya.. di situ teken Mas."Kutekan pelan-pelan. Kok meleset? Tekan lagi meleset lagi. Gimana sich caranya? Kupegang erat-erat penisku lalu tekan agak keras. Dan..

"Aaa.. Maass sakiitt. Pelan-pelan doong Maass.."Terasa kepala penisku terjepit sesuatu yang hangat."Tahan Mas.. tahan.."Dia meringis sepertinya menahan sesuatu."Ayo teken lagi Mass.. pelan-pelan Mass.. aahh.."Kutekan perlahan-lahan dengan kekuatan penuh. "Aaahh.." Kepala penisku terasa ngilu. Hangat. Kulihat sudah separuhnya tertancap, Yeyen meringis, kutahan sebentar.Setelah Yeyen terlihat tenang, dengan tiba-tiba kutekan penisku sekuat tenaga, "Bless.. bret..""Aaawww.. sakiitt Mass.. tahan Mass.. diem dulu Mass.." Yeyen berteriak.

Lalu kutahan. Ujung penisku seperti menyentuh sesuatu yang hangat. Aduh, rasanya seluruh penisku seperti terjepit oleh sesuatu yang hangat dan berkedut-kedut. Rasanya linu, sakit, enak, semuanya jadi satu.

 

"Tiinn.. tahan sedikit ya.." kataku.

Lalu aku menarik pantatku dan menekannya secara perlahan-lahan. Berulang kali. Kulihat Yeyen meringis-ringis. Begitu juga aku ikut meringis. Tapi kami sama-sama tidak mau berhenti.Setelah mungkin ada sekitar 15 kali naik turun, vagina Yeyen mulai agak licin. Dan Yeyen pun mulai tidak meringis lagi.

"Ayoo.. Mass.. ayoo Mas.. enak.. aaduuhh enaakk Mass.. aacchh.. sshh.."

Aku pun merasa sudah tak begitu linu lagi.

"Ayoo Mass.. yang cepet Mass.. yang dalem Mass.. Sshh.. aacch.."

 

Mendengar desahan itu aku makin cepat memompa penisku naik turun. Makin cepat, secepat aku bisa. Yeyen kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tangannya memegang sisi dipan. Susunya bergoyang-goyang. Badannya basah oleh keringat begitu juga rambutnya. Pantatnya yang tadi diam, sekarang mulai bergoyang. Naik, turun, kiri dan kanan. Tak lama aku merasa penisku semakin linu dan geli yang tak tertahan, dan terasa ada sesuatu yang mau keluar. Tapi aku merasakan tak ingin berhenti memompa.

 

Tiba-tiba Yeyen merangkulku dengan keras, menggigit pundakku. "Aaahh.. Aaauuw.. Aku pipiiss.. Mass.." Aku yang juga merasa mau pipis, kutekan sekuat tenaga penisku sampai mentok dan kutahan. "Samaa.. Mass juga pipiss.. aacchh.." dan, "Croott.. croott.. croott.." Empat kali penisku menyembur ke vagina Yeyen. Aku tergolek lemas di atas tubuh Yeyen. Tubuh kami sama-sama banjir oleh keringat. Kami diam beberapa saat. Penisku sudah lemas tapi masih tertancap di vaginanya.

 

Setelah mengatur nafas masing-masing, Yeyen berbisik, "Terima kasih banyak Mas.. bukan main.. Mass.. enak banget ya Maass.."

"Eee.. yenn.. jangan gerak dulu. Masih linuu.." desahku.

Karena tak tahan kucabut punyaku, dan aku tergolek di sebelahnya.

"Pantesan aja Kak Intan sering beginian. Nggak taunya enak banget." desahku setelah bisa mengendalikan diri.

 

Tiba-tiba kami sadar bahwa ada tugas yang harus kukerjakan. Aku langsung bangun. Dan kulihat ada bercak-bercak kemerahan di dipan Yeyen dekat selangkangannya.

"yenn.. punya kamu berdarah ya.. masih sakit..?"

"Sedikit Mas.. Linunya ini yang belum hilang."

"Udaahh bangun aja. Nanti siapa tahu ilang sendiri." kataku.

 

Lalu kubantu dia bangun, mengelap dipan dengan kain basah sambil melirik jam beker. Ya ampun 2 jam lebih aku bergelut dengan Yeyen. Setelah dia berpakaian, kubantu dia merendam cucian sementara dia mencuci beras. Dia mencuci baju, aku memotong-motong ubi dan penis. Karena sudah hampir terlambat, kami mandi bareng berdua. Di dalam kamar mandi itu kami saling ciuman lagi, saling meremas lagi.

 

Sesampainya di warung, ibuku bertanya, "Yeyen Kenapa, kok jalannya agak pincang?"

"Terpeleset waktu nyuci baju Bu.." aku yang yang menyahut.

Memang Yeyen jalannya agak sedikit pincang. Siang itu kami sekolah bergandengan tangan seakan tak mau dipisahkan.

 

Malam harinya saat belajar, Yeyen datang lagi. Kali ini sebelum belajar kami bercumbu dulu.

"yenn.. maafin Mas ya.. Mas khilaf.. Mas sudah mengambil keperawanan Yeyen."

"Nggak Mass, Yeyen dong yang seharusnya minta maaf. Khan Yeyen yang minta. Mas nyesel ya.. perjaka Mas udah ilang?"

"Lho, yang seharusnya nyesel itu khan yang perempuan bukan laki-laki."

"Tapi Yeyen nggak nyesel sama sekali, malah bangga bisa ngasih sama Mas."

"Sekarang Yeyen nggak mau pisah sama Mass.. Yeyen mau sama Mas terus.. Dan Yeyen janji nggak mau sama yang lain selain Mas." sambungnya lagi.

Kok air matanya netes? kucium dia dengan lembut.

"Terima kasih yen.. Mas juga janji. Mas juga nggak mau dengan orang lain selama ada Yeyen."

Dia memelukku lama sekali. Seakan tidak mau dipisahkan.

 

Aku sekarang sudah terbiasa kalau sedang mencium, tanganku mengelus-elus punggungnya, lalu meremas-remas dadanya. Eh, dia nggak pake kaos lagi. "Aaahh.. Mass.." dia mendesis. Tanganku mulai turun ke arah bongkahan pantatnya, kuremas-remas. Desahannya semakin keras saja. Tangganya pun mulai masuk ke dalam sarung. Mulai memegang sesuatu yang mulai mengeras. "Mass.. Yeyen mau lagi doonng.." Busyet, ini anak sepertinya maniak banget.

 

Beberapa saat kemudian kulepaskan daster dan celana dalamnya. Dia pun menurunkan sarung dan celana dalamku, lalu kaosku. Bugillah kami berdua. Kukecup lehernya sambil kuremas-remas dadanya. Kupuntir putingnya, dia mendesah. "Ssstt.. jangan berisik dong.. nanti Ibu bangun.." dia pun mengecilkan suaranya. Hanya mulutnya yang meringis-ringis saja. Tangannya tidak tinggal diam. Mulai menggenggam penisku dan mengocok dengan perlahan. "Mass.. kuhisap yaa.." katanya.

 

Lalu dia berbalik arah. Mulutnya yang mungil mulai menjilati kepala penisku. Seperti ada tegangan tinggi yang mengalir di tubuhku. "Aaahh.. yenn.." desahku perlahan saat dia mulai mengulum kepala penisku. Sementara itu vaginanya ada di depanku. Posisi 69 kata orang. Kucium aromanya. Aaahh segarnya. Mulailah lidahku menjelajah ke lubang yang merah membasah. Kucari kacang kedelenya dengan lidahku. Setiap kujilat kedelenya, hisapan di penisku terhenti. Cairan vaginanya makin lama makin banyak.

 

Tiba-tiba dia berbalik dan terlentang, sambil menarik penisku ke vaginanya.

"Auwww.. pelan-pelan dong yenn.. Sakit khan.." kataku karena penisku ditarik.

"Cepetan doongg.. Mass."

 

Kemudian kupegang penisku, kuarahkan ke vaginanya, kugesek-gesekkan di pintunya.

"Aaahh.. Mass.. jangan nakal doong.. cepetan.."

Kutekan perlahan-lahan. Masuk kepalanya, masih agak linu rasanya.

"Aahh.. sshh.." dia mengerang keenakan.

"Pelan-pelan Mass.."

Kutekan perlahan sekali. Takut dia kesakitan seperti tadi siang. Dia meringis. Kutahan, tarik sedikit, tekan lagi pelan-pelan, tarik lagi sedikit, tekan pelan-pelan. Mili demi mili penisku mulai ditelan oleh vaginanya yang amat sempit.

 

Setelah semuanya masuk, kudiamkan sebentar sambil menikmati sensasi yang ada. Sekarang seluruh penisku seperti dipijat-pijat.

"yenn.. Mas sayaang banget sama Yeyen.." kubisikkan di telinganya.

"Iii..iiyyaa.. Maass.. aahh.. Mass.." katanya sambil mecium bibirku.

Kami lalu berciuman. Saling mengadu lidah.

 

Lalu kunaik-turunkan pantatku pelahan. Kuresapi setiap garakanku. Tiba-tiba Yeyen memelukku. Dia berguling sehingga posisinya ada di atasku.

"Maass.. Yeyen mau di atas.."

"Iiiyaa tapi pelan-pelan yenn.. nanti Ibu banguunn.."

Rupanya dia ingin tahu gimana rasanya di atas. Dia jongkok sambil melihat ke selangkangannya, lalu naik turun pelahan-lahan. Wajahnya merah padam.

 

Lama-lama dia semakin cepat naik turunnya. Dadanya berguncang-guncang.

"Aaacchh.. oohh.. Maass.. Ooohh.."

"Ayoo.. yenn dicepetiinn.. ayoo.. sshh.."

Kuremas-remas kedua susunya. Keringatnya sudah di sekujur tubuhnya.

 

Kira-kira 10 menit kemudian dia menjepitkan kedua pahanya. Tangannya menjaKak rambutku. "Maass.. Tiitiinn.. piipiiss.."

Terasa ada cairan hangat menyembur di kepala penisku. Bersamaan dengan itu aku merasa ada yang mau keluar dari penisku. Kubalikkan dia, lalu kugenjot sekuatku.

"Maass.. udaahh.. gelii.. aduuhh.."

Aku tidak peduli. Kugenjot terus. Sampai akhirnya, "Tiinn.. Maass juugaa.. pipiiss.."

Dan, "Croott.. crroott.." Kusemprotan maniku 3 kali berturut-turut ke vaginanya. "Aaahh.."

 

Kucabut penisku dan aku tergolek lemas di sebelahnya. Bukan main, setelah sensasi dahsyat tadi mereda, kucium dia.

"Terima kasiihh.. yaa yenn.."

"Aaahh.. Mass.."

Kami tidur berpelukan berdua sampai kami terbangun karena badan kami dingin karena tidak memakai selimut. Lalu kami berpakaian, mencium pipiku, kuantar sampai pintu rumahnya.

Ah.. perjakaku hilang diumur 13 tahun.

 

Sejak saat itu Yeyen kalau datang belajar pasti tidak memakai kaos dalam atau BH. Karena Yeyen sejak kelas 2 SMP sudah memakai BH. Malu sama teman katanya. Bahkan kalau sudah kepingin dia datang tanpa mengenakan celana dalam. Kami melakukannya siang dan malam. Kadang di rumahku atau di rumahnya. Paling sering di rumahnya. Berbagai posisi sudah kami lakukan. Berdiri, sambil duduk (dia kupangku menghadapku), dia di atas, model anjing. Kecuali kalau saat dia mens, atau saat bapaknya di rumah. Itupun dia masih rela mengemut punyaku.

 

Ketika terdengar kabar bahwa Tapol G30S PKI dibebaskan, aku menemani ibuku mencari bapakku ke kota Bandung. Tidak ketemu. Di Jogya, di rumah keluarganya juga tidak ditemukan. Apa bapakku sudah tiada? Padahal pada daftar orang-orang yang dibebaskan tercantum nama bapakku, dibebaskan di Bandung.

 

Pada suatu sore, saat itu ibuku sedang shalat maghrib, ada seseorang dengan pakaian lusuh dan tampang sedih mampir ke warungku meminum kopi dan makan pisang goreng. Kuperhatikan dia sering melamun dan pandangannya kosong. Kuperhatikan lebih seksama lagi. Sepertinya aku pernah mengenalnya. Tapi dimana?

 

Tiba-tiba aku dikagetkan oleh teriakan ibuku.

"Maass.." teriak ibuku.

Rupanya ibuku sudah lama memperhatikan pria itu selagi minum kopi. Orang itupun kaget. Setelah saling pandang beberapa saat, mereka saling berpelukan erat. Ibuku menangis meraung-raung. Aku bingung harus berbuat apa. Aku diam saja.

 

"Mass itu anakmu yang kukandung dulu saat Mas pergi. Sini Pri kasih salam sama Bapakmu," kata ibuku. Kucium tangannya lalu kami bertangisan bertiga. Tangisan bahagia. Aku bahagia sekali. Aku sekarang ditemani bapakku. Orang yang dulu sangat kudaKakan. Tapi akibatnya hubungan dengan Yeyen jadi tidak sebebas dulu lagi. Kami harus curi-curi waktu untuk bersama-sama pada saat bapakku mencari kerja sebagai tukang kayu atau saat bapak dan ibuku jaga warung berdua.Akhirnya bapakku memutuskan untuk membesarkan warung saja.

 

Keadaan itu berakhir ketika pemilik kontrakan datang dan memberitahukan bahwa kontrakan akan dijual 3 bulan lagi. Orang tuaku pindah kontrakan tak jauh dari tempat semula, sedangkan Yeyenku pindah ke Ciamis.

 

Sebelum perpisahan, Yeyen memberiku servise yang tak terlupakan. Kami bergumul di kebun selama kurang lebih tiga jam. Kenangan yang takkan terlupakan.

 

 

Seperti biasa, setelah aku pulang dari pasar, kucari Yeyen."Kemana lagi ini anak.. pasti ketiduran lagi," pikirku.Aku masuk ke dalam rumahnya. Benar, dia lagi tidur memakai selimut."Ngapain ini orang siang-siang tidurnya kok selimutan? Apa sakit?" batinku. "Jendelanya juga ditutup?"

Kupegang keningnya, "Nggak panas kok.. kuperhatikan tubuhnya. Kok putingnya kelihatan menonjol? Dia selimutan memakai kain jarik tipis. Jadi aku tahu kalau putingnya menonjol. Aku sibakkan selimutnya pelan-pelan. "Lho.. kok nggak pake baju..?" batinku. Kutarik selimutnya semua. Melihat tubuh indah terpampang di hadapanku, penisku mulai berkedut. "Kok tangan kanannya ada di dalem celana dalemnya? Abis ngapain dia?" batinku. Melihat dadanya, penisku mulai tegang, kudekatkan wajahku, kucium pipinya, hidungnya, matanya. Eh.. dia menggeliat bangun. Mungkin kena angin. Jadi terasa dingin.

Dia kaget melihatku. Langsung menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya."Eh.. Mas Pri. Lagi ngapain," katanya."Tadi kamu aku panggil-panggil tapi nggak jawab, lalu aku masuk. Aku kaget liat kamu tidur kok telanjang, selimutnya berantakan. Mas mau betulin selimut kamu," kataku membela diri."Jadi Mas udah ngeliatin aku tidur dari tadi?""Lhaa.. abis kamu tidur kok nggak pake baju. Salah kamu doong.""Lho.. Mas aja yang masuk ke rumah orang nggak permisi..""Yaa.. udah Maass pulang. Bangun sana nyuci sama masak." kataku sambil meninggalkannya."Yee.. gitu aja Mas marah. Sini dulu dong Maass.." katanya manja sambil menarik tanganku agar duduk di dipannya."Maass aku kepingin seperti semalem doongg." katanya sambil menatapku."Nggak ah.. masak siang-siang gini. Entar malem aja ya.""Nggak.. maunya sekarang.." rengeknya.

Tau-tau dia merangkulku dan mencium bibirku. Aku tidak bisa menolaknya, kubales, kumainkanlidahku di mulutnya. Dia membalas. Nafasnya mulai tersengal-sengal. Selimutnya kusingkirkan, kuremas-remas susunya. Ciumanku mulai turun ke lehernya, turun lagi ke pundaknya, lalu mulutku melumat puting kanannya. Kepalanya menengadah sambil mendesis-desis. Persis seperti suara Kak Intan. "Oohh.. Mas Pri.. enak Maass.."Lalu kurebahkan dia ke dipan. Tangannya mulai masuk ke dalam celanaku. Memegang penisku di dalam celana. Mungkin karena kurang leluasa, Yeyen mulai menurunkan celana pendekku dengan CD-nya sekalian. Aku bantu dengan mengangkat pantatku. Tanganku pun mulai menurunkan celana dalamnya. Akhirnya dia bugil di depanku."Mas curaang.. kok kaosnya nggak dilepas..""Lho.. usaha doong."Lalu dia melepas kaosku. Kami lalu berguling-guling di dipan sempit tersebut, kutindih badannya. Mulut kami saling mengunci tidak bisa berkata apa-apa. Tangannya memegang penisku. Agak sakit. Kuraba seluruh badannya termasuk paha, punggung, perut. Setiap kuraba vaginanya, pahanya selalu direnggangkan.

 

Aku lalu teringat Kak Intan. Dulu si lelaki kok menjilati kelamin Kak Intan. "Kucoba ke Yeyen aahh.." batinku. Lalu ciuman kuturunkan ke lehernya, kedua susunya. Jari tengah tangan kananku masuk ke belahan vaginanya. Sudah basah. "Aaahh.. oohh.. sshh.. sshh.." dia mendesah agak keras, kudiamkan karena aku yakin saat sekarang di sekeliling kontrakanku pasti sepi.Lalu ciumanku turun ke perutnya. Kujilat-jilat pusarnya. Dia makin menggelinjang. Ciumanku terus turun sampai akhirnya wajahku tepat di depan vaginanya. Aku tak peduli gimana rasanya, kucium vaginanya. Baunya segar sekali.

 

Yeyen kaget sekali saat kucium vaginanya. Dia bangun dan melihat saja. "Mas Pri.. Jorookk.. vagina Yeyenn kok dicium.." desahnya tapi tidak tampak adanya penolakan. Saat kumasukkan lidahku, Yeyen mendesah, "Aaahh.. Maass.. Vagina Titiinn diapainn.. aahh Mass.. jangan.. adduuhh.." Aku terus saja menjilat benjolan kecil di dalam kemaluan Yeyen. Sementara Yeyen menggelinjang tidak karuan.

 

Kira-kira lima menit, tiba-tiba Yeyen melingkarkan kaki di kepalaku dan mengangkat pantatnya sehingga aku agak sulit bernafas. "Maass.. Yeyen mau piippiiss.." Menyemburlah cairan hangat seperti tadi malam. Karena aku sudah tahu rasanya, kujilat semuanya sampai habis. Uh, enak sekali rasanya.Manis, asin, gurih jadi satu. Aku naik ke atas dan memeluknya sambil tiduran."Mas.. Yeyen capek.." sambil wajahnya ditaruh di dadaku."Mas kok nggak jijik sih jilatin Vagina Yeyen?" tanyanya."Mas kan sayang Yeyen. Jadi Mas nggak akan jijik." sahutku sekenanya."Terus, pipis Yeyen juga dijilat? emang enak?""Enak kok.. kayak tajin."Hening sejenak."Mas, kalau Mas maunya diapainn," katanya sambil memegang penisku."Terserah Yeyen aja," kataku."Yeyen kocokin seperti semalem yaach."Lalu dia jongkok, mengocok-ngocok penisku yang tegang. Aku mendesah keenakan. "Aaahh.. Ooohh.. sshh.." Penisku makin tegang saja rasanya.Tiba-tiba penisku terasa geli, basah dan hangat? kutengok ke bawah. Ternyata Yeyen sedang menjilat-jilat kepala penisku. Aku tidak tahu belajar darimana dia, yang penting yang kurasakan saat itu nikmat sekali. Mimpi dipegang tititku oleh perempuan saja aku tak pernah. Apalagi sekarang dijilat. "Aduuhh Tiinn.. aku kamu apaiinn.. aahh.."

 

Saat sedang enak-enaknya mengerang, tiba-tiba kok hangatnya tidak di kepalanya saja. Kulihat ke bawah, "Astaga..!" Penisku diemut. Belum berfikir yang lain, tiba-tiba ada rasa aneh di penisku, ternyata selain diemut, Yeyen pun menghisapnya. Tak tahan akan gelinya, aku semakin mengerang. "Tiinn.. aku kamu apaiinn.. Tiinn.. kamu kok tegaa.." Tak berapa lama aku kepengin pipis. "Tiinn.. udaahh.. Mass mau pipiss.." Karena tidak tahan dan Yeyen tidak melepaskannya, akhirnya, "Croott.. croott.. croott.." Empat atau lima kali penisku meneKakkan cairannya di mulut Yeyen. Yeyen kaget sekali. Sebagian ada yang tertelan dan sebagian lagi meleleh keluar dari bibirnya.

"Mas Pri jahat.. pipis kok di mulut Yeyen.." katanya sambil berdiri dan mengelap mulutnya dengan kain jarik. Lalu dia minum air putih.Yeyen juga siihh.. Mas bilang udah.. udah, tapi Yeyen nggak mau lepasin," balasku."Udah sini tiduran. Mas kelonin," sambungku.Sambil kukelonin, kucium pipinya."Yeyen kok mau ngisep penisnya Mas? Apa nggak jijik. Khan jorok," pancingku."Lho, kata Mas kalau sayang kan nggak jijik.""Tadi pipis Mas gimana rasanya? Enaakk?""Enak Mas. Kayak santen tapi agak asin.""Yeyen belajar dari mana?"

"Waktu Yeyen ngintip, Yeyen liat Kak Intan ngisep tititnya Oom. Kayaknya Oom itu keenakan. Terus Yeyen mau Mas juga keenakan. Ya Yeyen ikut-ikutan Kak Intan.""Mas, Yeyen malu mau ngomong sama Mas.""Ngomong aja. Sama Mas kok malu.""Yeyen juga punya bacaan. Yeyen dapet sewaktu beli koran bekas untuk bungkus. Ada dua Mas. Yang satu Eni Arrow, yang satu Nick Carter.""Sewaktu Yeyen baca, badan Yeyen merinding semua. Terus susu sama Vagina Yeyen jadi gatel."Ooohh pantes dia cepet belajar. Dari situ toh sumbernya. Ditambah live show.

 

Selama kelonan, dadanya menghimpit dadaku. Terasa hangat dan kenyal. Lama-lama penisku keras lagi. Kucium pipi dan bibirnya lagi. Dia pun menyambutnya dengan mesra. Kami berciuman, bergulingan. Tanganku pun mulai bergerilya lagi. Ke susunya, punggungnya, lehernya, selangkangannya. Akhirnya tangan kananku berhenti di daging lunak di selangkangannya. Aku mulai mengusap-usap klitorisnya. Dia makin mendesah-desah nggak karuan. "Aaahh.. Maass.. Yeyen sayang sama Mas Pri.. shh.. aahh.. enak Mass.. teruuss Mass.." Sementara tangannya mulai meremas-remas punyaku. Penisku sudah pada puncaknya sekarang.

 

Tiba-tiba Yeyen melepaskan pelukannya.

"Mass.. Yeyen mau seperti Kak Intan.. Mas mau khaann.." katanya sambil menatap mataku.Ada permintaan tulus di sana, ada gelora di sana, ada sesuatu yang aneh di sana."Tapi Mas takuutt.. Nanti gimana? Kita khan belum pernah..""Tapi Yeyen mau Mass.." katanya lagi.lalu penisku diusap-usapkan ke mulut vaginanya yang sudah basah."Aaahh.. sshh.." dia mendesah.

 

Mendengar desahannya, aku mulai bertindak. Kukangkangkan pahanya, terlihatlah vaginanya yang tembem dengan rambut halus dan jarang, bagian dalamnya yang merah muda dan ada tonjolan daging sebesar kacang kedele. Vaginanya ternyata sudah basah sekali. Merah berkilat-kilat. Kusentuh kacang kedele itu.

"Aacchh.. Mass.. sshh.."Oh, jadi ini toh yang bikin dia menggelinjang itu. Kusentuh lagi."Aacchh.. Mass.. sshh.. diapain siicchh Mas.. nakal amat siihh.." desahnya.Kudekatkan wajahku supaya bisa melihat lebih jelas. Bentuknya lucu sekali. Aku coba menjilatnya."Aaacchh.. Mass..""Ayoo.. doonngg.. Mass.. cepetann.." katanya tak sabar.Kuarahkan kepala penisku ke mulut vaginanya, kutekan sedikit.

"Aaahh.." ada rasa hangat di kepala penisku. Kutekan sedikit. Kok mentok? Kutekan lagi. Mentok lagi."Tin, lubangnya yang mana?" tanyaku."Agak ke bawah sedikit Mass, di bawah yang Mas pegang tadi."Kuperhatikan dengan seksama. Oh, itu toh lubangnya. Kok kecil sekali? Apa punyaku bisa masuk?Kuarahkan penisku ke sana, kutekan. Kok melesat. Coba lagi. Meleset lagi."Yenn.. bantuin doonngg.."Yeyen memegang penisku lalu mengarahkannya."Teken Mas.. ya.. ya.. di situ teken Mas."Kutekan pelan-pelan. Kok meleset? Tekan lagi meleset lagi. Gimana sich caranya? Kupegang erat-erat penisku lalu tekan agak keras. Dan..

"Aaa.. Maass sakiitt. Pelan-pelan doong Maass.."Terasa kepala penisku terjepit sesuatu yang hangat."Tahan Mas.. tahan.."Dia meringis sepertinya menahan sesuatu."Ayo teken lagi Mass.. pelan-pelan Mass.. aahh.."Kutekan perlahan-lahan dengan kekuatan penuh. "Aaahh.." Kepala penisku terasa ngilu. Hangat. Kulihat sudah separuhnya tertancap, Yeyen meringis, kutahan sebentar.Setelah Yeyen terlihat tenang, dengan tiba-tiba kutekan penisku sekuat tenaga, "Bless.. bret..""Aaawww.. sakiitt Mass.. tahan Mass.. diem dulu Mass.." Yeyen berteriak.

Lalu kutahan. Ujung penisku seperti menyentuh sesuatu yang hangat. Aduh, rasanya seluruh penisku seperti terjepit oleh sesuatu yang hangat dan berkedut-kedut. Rasanya linu, sakit, enak, semuanya jadi satu.

 

"Tiinn.. tahan sedikit ya.." kataku.

Lalu aku menarik pantatku dan menekannya secara perlahan-lahan. Berulang kali. Kulihat Yeyen meringis-ringis. Begitu juga aku ikut meringis. Tapi kami sama-sama tidak mau berhenti.Setelah mungkin ada sekitar 15 kali naik turun, vagina Yeyen mulai agak licin. Dan Yeyen pun mulai tidak meringis lagi.

"Ayoo.. Mass.. ayoo Mas.. enak.. aaduuhh enaakk Mass.. aacchh.. sshh.."

Aku pun merasa sudah tak begitu linu lagi.

"Ayoo Mass.. yang cepet Mass.. yang dalem Mass.. Sshh.. aacch.."

 

Mendengar desahan itu aku makin cepat memompa penisku naik turun. Makin cepat, secepat aku bisa. Yeyen kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tangannya memegang sisi dipan. Susunya bergoyang-goyang. Badannya basah oleh keringat begitu juga rambutnya. Pantatnya yang tadi diam, sekarang mulai bergoyang. Naik, turun, kiri dan kanan. Tak lama aku merasa penisku semakin linu dan geli yang tak tertahan, dan terasa ada sesuatu yang mau keluar. Tapi aku merasakan tak ingin berhenti memompa.

 

Tiba-tiba Yeyen merangkulku dengan keras, menggigit pundakku. "Aaahh.. Aaauuw.. Aku pipiiss.. Mass.." Aku yang juga merasa mau pipis, kutekan sekuat tenaga penisku sampai mentok dan kutahan. "Samaa.. Mass juga pipiss.. aacchh.." dan, "Croott.. croott.. croott.." Empat kali penisku menyembur ke vagina Yeyen. Aku tergolek lemas di atas tubuh Yeyen. Tubuh kami sama-sama banjir oleh keringat. Kami diam beberapa saat. Penisku sudah lemas tapi masih tertancap di vaginanya.

 

Setelah mengatur nafas masing-masing, Yeyen berbisik, "Terima kasih banyak Mas.. bukan main.. Mass.. enak banget ya Maass.."

"Eee.. yenn.. jangan gerak dulu. Masih linuu.." desahku.

Karena tak tahan kucabut punyaku, dan aku tergolek di sebelahnya.

"Pantesan aja Kak Intan sering beginian. Nggak taunya enak banget." desahku setelah bisa mengendalikan diri.

 

Tiba-tiba kami sadar bahwa ada tugas yang harus kukerjakan. Aku langsung bangun. Dan kulihat ada bercak-bercak kemerahan di dipan Yeyen dekat selangkangannya.

"yenn.. punya kamu berdarah ya.. masih sakit..?"

"Sedikit Mas.. Linunya ini yang belum hilang."

"Udaahh bangun aja. Nanti siapa tahu ilang sendiri." kataku.

 

Lalu kubantu dia bangun, mengelap dipan dengan kain basah sambil melirik jam beker. Ya ampun 2 jam lebih aku bergelut dengan Yeyen. Setelah dia berpakaian, kubantu dia merendam cucian sementara dia mencuci beras. Dia mencuci baju, aku memotong-motong ubi dan penis. Karena sudah hampir terlambat, kami mandi bareng berdua. Di dalam kamar mandi itu kami saling ciuman lagi, saling meremas lagi.

 

Sesampainya di warung, ibuku bertanya, "Yeyen Kenapa, kok jalannya agak pincang?"

"Terpeleset waktu nyuci baju Bu.." aku yang yang menyahut.

Memang Yeyen jalannya agak sedikit pincang. Siang itu kami sekolah bergandengan tangan seakan tak mau dipisahkan.

 

Malam harinya saat belajar, Yeyen datang lagi. Kali ini sebelum belajar kami bercumbu dulu.

"yenn.. maafin Mas ya.. Mas khilaf.. Mas sudah mengambil keperawanan Yeyen."

"Nggak Mass, Yeyen dong yang seharusnya minta maaf. Khan Yeyen yang minta. Mas nyesel ya.. perjaka Mas udah ilang?"

"Lho, yang seharusnya nyesel itu khan yang perempuan bukan laki-laki."

"Tapi Yeyen nggak nyesel sama sekali, malah bangga bisa ngasih sama Mas."

"Sekarang Yeyen nggak mau pisah sama Mass.. Yeyen mau sama Mas terus.. Dan Yeyen janji nggak mau sama yang lain selain Mas." sambungnya lagi.

Kok air matanya netes? kucium dia dengan lembut.

"Terima kasih yen.. Mas juga janji. Mas juga nggak mau dengan orang lain selama ada Yeyen."

Dia memelukku lama sekali. Seakan tidak mau dipisahkan.

 

Aku sekarang sudah terbiasa kalau sedang mencium, tanganku mengelus-elus punggungnya, lalu meremas-remas dadanya. Eh, dia nggak pake kaos lagi. "Aaahh.. Mass.." dia mendesis. Tanganku mulai turun ke arah bongkahan pantatnya, kuremas-remas. Desahannya semakin keras saja. Tangganya pun mulai masuk ke dalam sarung. Mulai memegang sesuatu yang mulai mengeras. "Mass.. Yeyen mau lagi doonng.." Busyet, ini anak sepertinya maniak banget.

 

Beberapa saat kemudian kulepaskan daster dan celana dalamnya. Dia pun menurunkan sarung dan celana dalamku, lalu kaosku. Bugillah kami berdua. Kukecup lehernya sambil kuremas-remas dadanya. Kupuntir putingnya, dia mendesah. "Ssstt.. jangan berisik dong.. nanti Ibu bangun.." dia pun mengecilkan suaranya. Hanya mulutnya yang meringis-ringis saja. Tangannya tidak tinggal diam. Mulai menggenggam penisku dan mengocok dengan perlahan. "Mass.. kuhisap yaa.." katanya.

 

Lalu dia berbalik arah. Mulutnya yang mungil mulai menjilati kepala penisku. Seperti ada tegangan tinggi yang mengalir di tubuhku. "Aaahh.. yenn.." desahku perlahan saat dia mulai mengulum kepala penisku. Sementara itu vaginanya ada di depanku. Posisi 69 kata orang. Kucium aromanya. Aaahh segarnya. Mulailah lidahku menjelajah ke lubang yang merah membasah. Kucari kacang kedelenya dengan lidahku. Setiap kujilat kedelenya, hisapan di penisku terhenti. Cairan vaginanya makin lama makin banyak.

 

Tiba-tiba dia berbalik dan terlentang, sambil menarik penisku ke vaginanya.

"Auwww.. pelan-pelan dong yenn.. Sakit khan.." kataku karena penisku ditarik.

"Cepetan doongg.. Mass."

 

Kemudian kupegang penisku, kuarahkan ke vaginanya, kugesek-gesekkan di pintunya.

"Aaahh.. Mass.. jangan nakal doong.. cepetan.."

Kutekan perlahan-lahan. Masuk kepalanya, masih agak linu rasanya.

"Aahh.. sshh.." dia mengerang keenakan.

"Pelan-pelan Mass.."

Kutekan perlahan sekali. Takut dia kesakitan seperti tadi siang. Dia meringis. Kutahan, tarik sedikit, tekan lagi pelan-pelan, tarik lagi sedikit, tekan pelan-pelan. Mili demi mili penisku mulai ditelan oleh vaginanya yang amat sempit.

 

Setelah semuanya masuk, kudiamkan sebentar sambil menikmati sensasi yang ada. Sekarang seluruh penisku seperti dipijat-pijat.

"yenn.. Mas sayaang banget sama Yeyen.." kubisikkan di telinganya.

"Iii..iiyyaa.. Maass.. aahh.. Mass.." katanya sambil mecium bibirku.

Kami lalu berciuman. Saling mengadu lidah.

 

Lalu kunaik-turunkan pantatku pelahan. Kuresapi setiap garakanku. Tiba-tiba Yeyen memelukku. Dia berguling sehingga posisinya ada di atasku.

"Maass.. Yeyen mau di atas.."

"Iiiyaa tapi pelan-pelan yenn.. nanti Ibu banguunn.."

Rupanya dia ingin tahu gimana rasanya di atas. Dia jongkok sambil melihat ke selangkangannya, lalu naik turun pelahan-lahan. Wajahnya merah padam.

 

Lama-lama dia semakin cepat naik turunnya. Dadanya berguncang-guncang.

"Aaacchh.. oohh.. Maass.. Ooohh.."

"Ayoo.. yenn dicepetiinn.. ayoo.. sshh.."

Kuremas-remas kedua susunya. Keringatnya sudah di sekujur tubuhnya.

 

Kira-kira 10 menit kemudian dia menjepitkan kedua pahanya. Tangannya menjaKak rambutku. "Maass.. Tiitiinn.. piipiiss.."

Terasa ada cairan hangat menyembur di kepala penisku. Bersamaan dengan itu aku merasa ada yang mau keluar dari penisku. Kubalikkan dia, lalu kugenjot sekuatku.

"Maass.. udaahh.. gelii.. aduuhh.."

Aku tidak peduli. Kugenjot terus. Sampai akhirnya, "Tiinn.. Maass juugaa.. pipiiss.."

Dan, "Croott.. crroott.." Kusemprotan maniku 3 kali berturut-turut ke vaginanya. "Aaahh.."

 

Kucabut penisku dan aku tergolek lemas di sebelahnya. Bukan main, setelah sensasi dahsyat tadi mereda, kucium dia.

"Terima kasiihh.. yaa yenn.."

"Aaahh.. Mass.."

Kami tidur berpelukan berdua sampai kami terbangun karena badan kami dingin karena tidak memakai selimut. Lalu kami berpakaian, mencium pipiku, kuantar sampai pintu rumahnya.

Ah.. perjakaku hilang diumur 13 tahun.

 

Sejak saat itu Yeyen kalau datang belajar pasti tidak memakai kaos dalam atau BH. Karena Yeyen sejak kelas 2 SMP sudah memakai BH. Malu sama teman katanya. Bahkan kalau sudah kepingin dia datang tanpa mengenakan celana dalam. Kami melakukannya siang dan malam. Kadang di rumahku atau di rumahnya. Paling sering di rumahnya. Berbagai posisi sudah kami lakukan. Berdiri, sambil duduk (dia kupangku menghadapku), dia di atas, model anjing. Kecuali kalau saat dia mens, atau saat bapaknya di rumah. Itupun dia masih rela mengemut punyaku.

 

Ketika terdengar kabar bahwa Tapol G30S PKI dibebaskan, aku menemani ibuku mencari bapakku ke kota Bandung. Tidak ketemu. Di Jogya, di rumah keluarganya juga tidak ditemukan. Apa bapakku sudah tiada? Padahal pada daftar orang-orang yang dibebaskan tercantum nama bapakku, dibebaskan di Bandung.

 

Pada suatu sore, saat itu ibuku sedang shalat maghrib, ada seseorang dengan pakaian lusuh dan tampang sedih mampir ke warungku meminum kopi dan makan pisang goreng. Kuperhatikan dia sering melamun dan pandangannya kosong. Kuperhatikan lebih seksama lagi. Sepertinya aku pernah mengenalnya. Tapi dimana?

 

Tiba-tiba aku dikagetkan oleh teriakan ibuku.

"Maass.." teriak ibuku.

Rupanya ibuku sudah lama memperhatikan pria itu selagi minum kopi. Orang itupun kaget. Setelah saling pandang beberapa saat, mereka saling berpelukan erat. Ibuku menangis meraung-raung. Aku bingung harus berbuat apa. Aku diam saja.

 

"Mass itu anakmu yang kukandung dulu saat Mas pergi. Sini Pri kasih salam sama Bapakmu," kata ibuku. Kucium tangannya lalu kami bertangisan bertiga. Tangisan bahagia. Aku bahagia sekali. Aku sekarang ditemani bapakku. Orang yang dulu sangat kudaKakan. Tapi akibatnya hubungan dengan Yeyen jadi tidak sebebas dulu lagi. Kami harus curi-curi waktu untuk bersama-sama pada saat bapakku mencari kerja sebagai tukang kayu atau saat bapak dan ibuku jaga warung berdua.Akhirnya bapakku memutuskan untuk membesarkan warung saja.

 

Keadaan itu berakhir ketika pemilik kontrakan datang dan memberitahukan bahwa kontrakan akan dijual 3 bulan lagi. Orang tuaku pindah kontrakan tak jauh dari tempat semula, sedangkan Yeyenku pindah ke Ciamis.

 

Sebelum perpisahan, Yeyen memberiku servise yang tak terlupakan. Kami bergumul di kebun selama kurang lebih tiga jam. Kenangan yang takkan terlupakan.

Attached Files



#2 thealfonso

thealfonso

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 31 posts

Posted 21 February 2016 - 09:25 PM

edan...top banget



#3 rangoros

rangoros

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 25 posts

Posted 11 March 2016 - 08:39 AM

Siip ceritanya

#4 kangzack

kangzack

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 4 posts

Posted 01 April 2016 - 12:41 AM

manteff banget, : HAPPY :



#5 preggomaniac

preggomaniac

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 44 posts

Posted 20 October 2016 - 03:12 AM

Kayanya repost...nama Titin diganti Yeyen